Free Cursors Raja Warta: April 2009 Raja Warta: April 2009

Raja Warta

Selasa, 21 April 2009


International: Boycott of UN conference on racism growing

20/04/2009: Germany, Canada, Australia, New Zealand and the Netherlands have all joined the US and Israel in announcing their withdrawal from the Geneva conference. (The Guardian & HRW)

Today, on the first day of the conference, there will be an address and a press conference by Ahmadinejad, who has previously made comments calling into question the facts of the Holocaust and hosted a 2006 conference to review its history. The Iranian president's speech today, on a rare visit to western Europe, comes on the eve of Holocaust Remembrance Day, raising concerns that he will address the subject again. The US said on Saturday that it would not be attending today's UN conference because of what Washington said was "objectionable" language in a draft statement.

The draft statement for this week's conference does not single out Israel, but formally upholds the 2001 declaration, which does. The UN High Commissioner for Human Rights, Navi Pillay, said she was "shocked and deeply disappointed" by the US boycott.

Previously, Juliette de Rivero, Geneva advocacy director at Human Rights Watch had said, "We've made enormous progress to overcome the problems surrounding the preparatory process of this conference and produce a declaration to unite the world against the scourge of racism. Governments should stand firm in Geneva to ensure that Ahmadinejad's presence isn't used to undermine a process that's now backed by so many nations, or to undercut the constructive spirit of the negotiations."

There was a significant turning point in the negotiations leading up to the review conference a few weeks ago when participating nations agreed to remove any reference to the Israeli-Palestinian conflict (or any other specific situation) and to "defamation of religion." These two issues had polarized delegations and damaged prospects of a successful outcome to the conference.

Human Rights Watch said that governments should deepen their engagement with the conference to ensure that it stays on track, focusing on the important issues of addressing racism in the world.

"The issue of fighting racism and discrimination is too important to be derailed by anyone," de Rivero said.

Human Rights Watch called on Ahmadinejad to use his presence at the UN racism conference to announce an end to repression of the Baha'i people in Iran and a commitment to allow freedom of expression - an essential protection in the fight against racism worldwide.

Ahmadinejad's government routinely represses dissent and has continued the decades-old repression of Iran's religious and ethnic minorities, including the Baha'i religious minority (www.hrw.org/en/news/2006/06/04/iran-scores-arrested-anti-baha-i-campaign), Human Rights Watch said. Iran's record of repressing peaceful dissent does great injustice to the struggle against racism and discrimination.

"Saying you won't negotiate unless everyone else accepts all your demands first is not the way to get the changes you want," de Rivero said. "This attitude is especially disappointing given President Obama's promise to engage with other nations rather than trying to impose Washington's will upon them."

posted by Kemana? Tunjuklah kedepan at 14.06 1 comments


REALISME, KEATORAN, DAN CIVIC DUTY STANISLAVSKY
Oeh : Mhd Fadhli

Stanislavsky adalah seniman sejati. Dia meleburkan sekaligus menggeneralisir diri dengan utuh, hingga akhirnya dia menjelajahi sendiri kisi-kisi kehidupannya sampai ke tingkat paling mendetail. Penonton tak lagi membutuhkan penjelasan lanjutan atas apa yang dia tampilkan. Menurut pendapat saya, begitulah teater seharusnya. (Lenin,1918)

Siang malam saya bergelut dengan kalimat di atas. Seminggu lamanya saya mencoba mencari tahu; arah mana yang dituju pola keaktoran Stanislavsky. Sesuatu yang ia perjuangkan seumur hidup. Sebelumnya, saya dan mungkin banyak pecinta teater, terjebak dalam pemahaman paling umum tentang Stanislavsky. Bahwa, patron-patron permainan yang dia tawarkan adalah produk klasik, meskipun kemudian dia pulalah yang diakui sebagai founding father keaktoran teater Realis (simbol kebangkitan era modern dalam dunia teater, pasca runtuhnya era barok dan romantisme). Dari beberapa essai yang pernah ditulis oleh para penerus Stnislavsky di Rusia, akhirnya saya bisa menarik beberapa kesimpulan baru.

Teori-teori Stanislavsky banyak lahir dari pertimbangan pilihan; “ teater realis” atau “teater dengan konvensi”, bermain “realistis” atau bermain “formalistis”. Hal ini mebentur pikirannya karena pada saat itu, pemerintahan Stalin menjadikan teater sebagai alat propaganda maksud-maksud positif dari ajaran sosialis. Dan Stanislavsky, karena kepakarannya, dipaksa untuk membuat format pusat yang kelak akan jadi acuan penyeragaman pola teater se-Soviet. Tak dapat disangkal, dengan sendirinya menjadilah tawaran realis itu sebagai konsep yang seolah-olah kaku. Bila kemudian Stanislavsky mencetuskan teori dari praktek-praktek teaternya, apalagi ketika dikaitkan dengan aliran realisme, maka itulah ‘hukum’ yang sebenarnya tidak diikhlaskannya.

Maksud saya, bagaimana seorang Stanislavsky akan menerjemahkan realisme ditengah tekanan struktur oleh penguasanya. Sebuah realisme yang beranjak dari pemberontakan terhadap patron aristokrat. Realisme yang hampir menyentuh kemerdekaan panggung dan kefulgaran esensi pemeranan itu. Ibaratnya, lepas dari mulut buaya masuk ke mulut singa.

Hingga 1917 Rusia dikuasai oleh pola otokratis yang menekan kehidupan petani dan buruh, Tzaris. Selama masa ini, Stanislavsky dan banyak seniman Soviet mendapat tekanan karena kesenian, utamanya teater dilarang untuk menyentuh wilayah politik dan kepentingan pengaruh massa yang diusungya. Akhirnya, para seniman ini melakukan gerakan bawah tanah. Stanislavksy sendiri melarang Meyerhold (salah satu aktor asuhannya) untuk mengangkat gerakan teater eksperimennya ke panggung publik. Meyerhold yang berdarah Jerman, memiliki kepribadian yang keras dan cenderung memberontak. Kearifan Stanilavsky-lah yang kemudian membuatnya tersadar akan konsekwensi berat di balik tindakan yang gegabah dalam memperjuangkan kesenian di Soviet.

Masa pasca perang sipil (1917–1921) adalah titik pergolakan terpenting dalam proses kreatif Stanislavsky. Bolsheviks merestrukturisasi seluruh komponen kemasyarakatan, berikut kesenian di dalamnya. Stanislavksy beroleh kesempatan yang luas. Dia mulai membuka-buka kembali pola-pola keaktoran realis dengan meningkatkan asumsinya atas pandangan kemanusiaan Vissarion Belinsky. Uniknya, di sini keaktoran justru lahir di atas penelaahan terhadap puisi. Seperti yang pernah dikatakan Benedetti, “Di dalam filosofi Belinsky, Stanislavksy menemukan kebijakan moral bagi prosesnya sendiri. Ide dan pertunjukannya, yang mengemban tanggung jawab sosial dan dipenuhi standar etika, cukup bertentangan dengan pandangan keluarga besarnya. Kemanusiaan dan kebebasan adalah landasan yang membuatnya berbeda.”

Antara 1921 hingga 1928 (di masa Lenin) Stanislavsky mendapat ruang yang lebih luas, sekaligus menjebak. Di tengah gebyar kebijakan semi-kapital bagi perekonomian, pihak ortodok secara berangsung-angsur justru berusaha menguasai beberapa lini kemasyarakatan, termasuk teater. Padahal Stanislavsky tengah mengusung teori-teorinya bersama Moscow Art Theater yang ia dirikan bersama Nemirovich. Di antara hal yang berusaha dibangun Stanislavksy dalam pola keaktorannya masa itu adalah persoalan intelegensi.

Selanjutnya, ketika Stalin berkuasa, Stanislavksy mendapat ujian paling berat. Stalin membutuhkan perangkat kekuasaan untuk menjalankan propagandanya. Perangkat yang dimaksud adalah hal-hal yang berpengaruh ditengah masyarakat. Tentu saja arahan pertama, terutama dialamatkan pada teater. Stanislavsky sukar untuk mengelak. Ia merasa punya tanggung jawab penuh untuk mempertahankan avant garde yang telah ia pertaruhkan selama ini.

Boleh dibayangkan bahwa para aktor teater pada masa itu, seperti yang dikehendaki Stalin, akan berubah menjadi juru kampanye. Pementasan adalah iklan layanan masyarakat berisi jargon-jargon imperium Moskow. Barangkali hal inilah yang menyebabkan semakin merosotnya kuantitas pementasan realis yang ditawarkan Stanislavsky. Dia justru tertarik dengan pola-pola simbolis (kembali seperti di masa 1905). Untuk sementara ada yang berpendapat, hal ini demi menyelamatkan karakter permainan aktor-aktornya yang cemerlang. Namun sebagian pihak mengatakan bahwa, Stanislavsky memang berencana untuk buru-buru menyelesaikan Realis dan menghukum temuan-temuannya sendiri. Stanislavsky meminta Meyerhold kembali pada bentuk-bentuk eksperimen, sehingga kelak pola keaktoran realisnya akan semakin berkembang.

Namun tidak bisa dipungkiri apa yang diproklamirkan oleh serikat penulis soviet , pada tahun 1934, sebagai “Social Realism”, sesungguhnya adalah pengakuan yang pahit terhadap pengaruh pemerintah pada gerakan kesenian. Bunyinya: Realisme sosialis, menjadi metode dasar bagi kesusastraan dan kritisisme, bersumber dari kesadaran dan kejujuran seorang seniman, secara historis menjadi representasi yang kongkrit dari realita dalam perkembangan revolusinya. Lebih lanjut lagi, kebenaran dan kompleksitas representasi artistik harus dikombinasikan dengan kehendak transformasi ideologis dan pendidikan bagi setiap orang yang bekerja dalam semangat sosialsme.

Realisme sosialis kukuh sebagai sistem inti hingga akhirnya muncul gerakan post-Stalinist pada tahun 1950. pada prakteknya, fakta ini juga menjadi landasan bagi terbangunnya tirani komunisme. Memberi pengaruh hingga ke tatanan politik. Ia juga menjadi candu yang senantiasa berbau kontemporer.

Sementara Stanislavsky berusaha tumbuh di bawah kompleksitas pengaruh seni dan budaya Rusia dari akhir abad 20. Dimana pengaruh ini juga menyusup ke dalam pola perbaikan selera teater dalam masyarakat. Pendidikan yang dibangunnya untuk para konsumen panggung. Secara tidak langsung beban ini diembankan pula kepada para aktor yang menjalani proses demi proses bersama sang sokoguru. Beberapa aktor, seperti Meyerhold, mencoba untuk mengembalikan spirit perubahan dan kebebasan di dalam realisme. Bahwa permainan adalah tindakan sadar tanpa intervensi yang akan menghambat pesan otonom di dalamnya. Tidak ada intimidasi terhadap keaktoran! Namun kemudian, Meyerhold malah dicap sebagai musuh masyarakat. Dia dieksekusi.

Apa yang dialami Meyerhold tersebut, menjadi pelajaran penting bagi aktor-aktor lain. Mereka kembali menunduk di bawah telapak kekuasaan Stalin. Namun untuk mengatasi kebekuan, Stanislavsky memberi peluang diskusi dan pencarian metode. Pada ruang-ruang tertentu malah terjadi komunikasi dua arah yang lebih lancar. Agaknya, inilah momen terpenting yang selalu ditunggu Stanislavsky. Ia sadar betul bahwa permainan terbaik seorang aktor akan ditampilkan oleh penjiwaan yang baik.

Konsep penjiwaan ini merupakan simpanan laten yang kemudian membuat Stanilavsky dibicarakan dramawan dunia. Paham materis – sebagai bagian dari mimpi masyarakat ideal dalam komunis – secara implisit mengecam persoalan bathin. Ketika permainan disandarkan pada kesadaran jiwa, maka akan selalu ada pemberontakan terhadap sistem. Bila seorang aktor memaknai penjiwaan lebih dari tampilan raga, alat-alat mati, dia tidak lagi bisa bersepakat dengan misi yang seharusnya. Sementara untuk kepentingan realis dan ‘kejujuran’ yang memancing pemahaman terdalam, penjiwaan menurut Stanislavsky begitu diperlukan.

Beratnya pilihan Stanislavsky saat itu mengingatkan kita pada bagaimana susahnya Arifin C Noer ketika dipaksa untuk membuat film agitasi dan propaganda Orde Baru, G-30 S PKI. Ia mendapat tekanan yang serius dari luar dan dari dalam. Apalagi setelah pemikiran-pemikiran keaktorannya sempat menjadi isu penting dalam agenda kebudayaan, baik di media masa maupun ajang diskusi.

Sudah barang tentu, kondisi masyarakat menjadi bahan pelajaran penting bagi proses seorang aktor. Stanislavsky sebagai aktor sekaligus sosok guru yang memberi pengaruh kuat mencoba menempatkan dirinya pada posisi paling fleksibel. Namun tetap saja banyak tudingan yang diarahkan kepadanya. Masyarakat yang kritis melihat kendornya daya juang Stanislavsky dalam beberapa garapan. Dia perlahan-lahan terjebak dalam harapan-harapan yang semua muncul bagi lahirnya karakter teater Soviet. Stanislavsky terpaksa berjibaku melalui jawaban-jawaban panggungnya. Dan setiap pementasan memberinya pelajaran yang baru. Bahkan kemudian penelaahannya lebih terarah pada hal-hal berbau humanist. Bagaimana manusia bagi manusia. Kejujuran yang dibungkusnya dalam istilah ‘kewajaran panggung’ memberi sumbangsih bagi banyak metode yang berkembang pada masa itu. Bagaimanapun, sebagai orang Rusia ia memiliki nasionalisme yang tetap dipertahankannya. Ia berharap agar suatu saat bangsanya menjadi besar di percaturan pengaruh budaya dunia. Dan itu terbukti saat ini. Tadashi Suzuki, seorang dramawan Jepang mutakhir, mengibaratkan Stanislavsky sebagai kaisar yang meminjam baju rakyatnya. Dia menghindarkan dirinya dari bias hegemoni akibat kepeloporannya sendiri. Toh pada akhirnya, kita juga bisa mengamini kuatnya pengaruh keaktoran realis ala Stanislavsky di negara kita ini.

Tapi, sebelum terburu-buru menutup, secara objektif mungkin kita bisa belajar dari surat yang ditulis oleh Meyerhold kepada istrinya pada tahun 1901, selama keterlibatannya sebagai aktor dalam proses penggarapan Hedda Gabler, yang disutradarai langsung oleh Stanislavsky. Meyerhold menulis : apakah kami sebagai aktor harus pasrah untuk berakting? Pastinya kami harus berpikir dengan baik. Kami harus tahu kenapa kami bermain, apa yang kami mainkan, dan siapa yang kami serang dalam permainan kami. Dan untuk itu kami harus tahu sisi psikologis permainan kami secara signifikan. Untuk memastikan apakah karakter itu positif atau negatif. Untuk memahami masayarakat, atau bagian mana dari masyarakat yang ingin di lawan oleh penulis naskah kami.

M. Fadli, aktif di teater Rumah Teduh

Label:

posted by Kemana? Tunjuklah kedepan at 13.41 0 comments

Senin, 20 April 2009


Kamar Mandi

Cerpen Yetti A KA Silakan Simak!
Dimuat di Jurnal Nasional Silakan Kunjungi Situsnya! 04/19/2009 Telah Disimak 44 kali


Saya rebahkan badan di lantai kamar mandi, telentang menghadap pagu. Rambut saya terserak di lantai, mirip tumpukan kain pel. Saya rentangkan kedua lengan, membentuk garis horizontal, lalu dua kaki saya merapat, jadilah saya sebuah pesawat terbang mainan. Benda belaka. Tentu enak menjadi benda, ia tidak punya emosi. Ia mati. Namun saya benda yang tidak mati. Saya terlihat memprihatinkan, bukan? Saya...ah, entah. Saya kurang yakin apa motif saya. Yang saya tahu saya sedang kesal padanya dan saya lepas kendali.

Sejujurnya, saya berada di kamar mandi ini saja, sudah membuat saya ragu, apa memang sudah seharusnya saya berlari ke kamar mandi seakan ada yang memporandakan kehidupan saya, padahal yang terjadi tadi cuma soal remeh temeh, dan selama ini saya tidak terganggu sedemikian rupa, apalagi sampai membanting pintu segala seraya merutuk, “Brengsek!”, kecuali beberapa kali, dapat dihitung dengan jari, ketika saya sedang hamil besar, dan itu dapat saja dipahami sebagai luapan dari kondisi psikis yang sedikit terguncang karena saya yang senang jalan-jalan keluar kota menjadi tidak bisa ke mana-mana selain olah raga pagi dan mengikuti kelas prenatal di sebuah sanggar, berjarak seratus meter dari rumah. Kali itupun selalu kami akhiri dengan sangat romantis. Saya ingat betul, dia menggedor-gedor pintu kamar mandi dan memanggil nama saya berkali-kali. Ia cemaskan keadaan saya (atau bayi kami?). Selang beberapa waktu, saya pun membukakan pintu, dan ia langsung merenggut tubuh saya yang sudah basah, ia peluk saya erat sekali, dan berkata, “Sayangku, Sayangku.” Saya tidak kuasa menahan gejolak perasaan dari kejadian yang amat dramatis itu. Tubuh saya berdenyut-denyut. Saya mau pingsan, rasanya. Di kedua lengannya saya menumpangkan kehidupan saya saat itu. Saya percaya ia pasti menjaga saya, sebagaimana ia meyakinkan saya bahwa ia tidak pernah bisa melihat saya terluka.

Tempat saya sekarang ini, kamar mandi yang sama, tanpa ada yang berubah. Bahkan aroma sabun yang menguar dari kotak itu masih sama. Juga sabun cuci atau pembersih porselen. Semua bercampur, bau khas kamar mandi, segar. Karena itu saya suka tempat ini. Terlebih bila saya marah atau tersinggung atau kecewa. Bau itu membantu perasaan saya sedikit lebih tenang. Semacam aromaterapi yang mengendurkan pikiran. Kemudian yang saya harapkan tentu saja dia akan memanggil nama saya, berkali-kali, menunjukkan tingkat kecemasan di titik tertentu, sampai ia membukakan pintu, dan kami kembali mengulangi drama sepasang kekasih yang mengharukan. Kami berbaikan, lagi-lagi membuat janji sederhana bahwa kami akan saling menjaga, saling memberi tempat sebesar-besarnya satu sama lain supaya kami merasa tidak tersisih di antara sekian kesibukan. Terutama akhir pekan. Kami sepakat melewatinya tanpa diganggu urusan kerja sama sekali. Bahkan kami mematikan HP di hari libur itu. Berjaga-jaga dari gangguan tidak terduga.

Tapi kini ia belum juga mengetuk pintu dan memanggil nama saya, padahal saya masih yakin ia mencintai saya. Keyakinan yang sama persis saat kami kencan dan mulai membincangkan harapan-harapan ke depan, termasuk ingin punya tujuh anak dalam lima belas tahun perkawinan, lelaki semua. Tujuh anak lelaki. Bayangkan betapa penuhnya rumah kami. Mereka berlari kian kemari. Membuat berantakan ruang tamu dan memecahkan keramik kesayangan saya. Saya tidak peduli tentang keramik itu. Terserah mau pecah semua. Saya mau mereka menganggap rumah sebagai tempat bermain yang menyenangkan, bebas dari aturan-aturan yang membatasi ekspresi mereka.

“Kamu mencengangkan,” dia berkomentar.

“Karena aku sudah membayangkan jadi seorang ibu,” balas saya saat itu.

“Hanya itu?” kejarnya.

“Karena aku dicintai dan itu membuatku bisa berpikir berbeda,” tambah saya.

Dan mungkinkah ia berubah saat kami baru punya satu anak lelaki, dan saya tidak menyadarinya sama sekali. Ada perempuan lain? Gadis muda?

Jika sekadar itu saya dapat saja memaklumi. Kakek saya pernah selingkuh dengan tetangga yang hanya berjarak tiga rumah. Ayah saya juga pernah memajang foto perempuan lain di meja kerjanya, perempun yang tidak lebih cantik dari ibu tapi dapat membuat ayah menyingkirkan ibu beberapa waktu lamanya. Paman saya membawa lari seorang janda seksi beranak satu selama sebulan lebih. Di balik kejadian itu, nenek saya mampu bertahan dari gunjingan orang-orang di sekitarnya, termasuk keluarga kakek yang menyalahkan nenek karena tidak pandai menjaga suami. Ibu saya, awalnya memang sering menangis, bermalam-malam, terpuruk, merasa tidak berharga, sangat marah karena merasa ia mendapat karma dari kesalahan seorang ayah, setelah itu ia biasa-biasa saja, malah bisa bangkit dari keadaan buruk itu. Bibi saya masih membukakan pintu ketika paman kembali padanya membawa lima kotak dodol garut dan setoples gula-gula, kebiasaan dalam keluarga besar kami bila seseorang baru pulang dari bepergian jauh, biasanya dari Jawa, tanpa permintaan maaf atau setidaknya menunjukkan rasa malu.

Benarkah ada perempuan lain dalam rumah saya. Uhh! Apa matanya sebagus mata kelinci. Sungguh manis. Sungguh lucu. Perempuan itu mungkin pernah datang ke rumah ketika saya sedang bermalam di rumah orang tua saya. Dia memakai kamar mandi saya, mencuci rambutnya yang ikal (saya tahu suami saya selalu suka perempuan berambut ikal). Bisa jadi ia juga menghabiskan shampo dan sabun mandi saya. Menggunakan gunting saya untuk memotong poni atau ujung rambutnya yang mulai bercabang. Memakai gunting kuku saya untuk membersihkan kuku kakinya. Atau juga memakai pisau cukur saya untuk merapikan alisnya. Lalu ia bercermin dan berdandan di depan lemari rias saya. Suami saya dan perempuan itu saling menatap lewat cermin. Suami saya memeluknya dari belakang dan mereka cekikikan sepanjang hari. Tawa mereka lalu merambat ke dinding-dinding yang dingin. Berhari-hari, sebelum menguap, menjadi bagian dari udara yang saya hirup ketika saya kembali ke rumah, masuk ke paru-paru saya, menggerogoti hidup saya, pelan-pelan.

Kurang ajar! Saya jengah memikirkan itu. Bukan karena cemburu, tapi sangat menyebalkan jika membayangkan seseorang lain, perempuan pula, memakai kamar mandi pribadi saya, sebab di sanalah satu-satunya tempat yang saya yakini bebas dari campur tangan orang lain, di mana seringkali saya bertanya tentang diri, tentang begitu banyak keinginan yang ingin saya raih di waktu yang akan datang atau sesekali tempat saya membayangkan sejumlah mantan pacar yang bahkan masih bisa saya rasakan napas mereka yang hangat di balik telinga. Saya menuntut pada bayangan mantan pacar itu untuk terus membiarkan saya berada dalam hidupnya. Saya tidak mau buru-buru disingkirkan atau dibuang lewat jendela pada tengah malam gulita disertai kata-kata melankolis, “Tolong, pergilah dari hidup saya!” Saya ingin di hati mereka. Selama mungkin. Dan saya merasa tidak berbuat jahat karena itu.

“Saya tidak bisa melakukan itu,” kata suami saya suatu pagi sambil mengunyah sekeping biskuit rasa kacang. Ia kurang bersemangat mendengar cerita soal mantan pacar saya. Wajah bulatnya sedikit merah dan terkesan lebih kencang, seperti menahan marah.

Saya tertawa nakal, “Kamu cemburu?”

Ia melotot sejenak, mengangkat bahu sambil memasukkan lagi satu gigitan biskuit ke mulutnya.

Tentu ia tidak terlalu berminat atas apa yang saya lakukan dalam cerita saya itu. Setidaknya bagi dia atau kebanyakan lelaki lebih baik mengajak kencan perempuan yang baru dikenalnya di taman saat lari pagi ketimbang mengingat-ingat sejumlah mantan pacar menjelang tidur malam. Saya berani bertaruh tentang itu.

Suami saya menyeringai. Sedikit menakutkan. Lalu ia berujar, Aku cinta padamu. Ungkapan yang terdengar posesif. Saya bilang, Kau kurang tulus kali ini. Aku rindu kau yang dulu.

Ia tercengang. Sejenak kami sama-sama kikuk. Ia menggigit lagi biskuit kegemarannya. Terdengar napasnya agak kacau. Dia meninggalkan saya. Katanya, ia ada urusan dengan teman. Kenapa mendadak, saya mencecarnya. Kau menyebalkan pagi ini, akhirnya ia mau terbuka. Saya balas, Kau juga sudah berubah. Kau sekarang bukan lagi lelaki humoris dan hangat. Dia berteriak, Terserah. Saya balas berteriak, Dasar penipu. Dia menutup pintu pagar keras-keras. Saya berlari ke kamar mandi. Beberapa menit lamanya. Setelah itu ia kembali. Mengeluarkan saya dan mengaku salah karena bersikap tidak menyenangkan pagi itu. Saya memberinya kesempatan. Kami tertawa. Melanjutkan sarapan yang sempat terganggu.

Benarkah kini kami telah begitu jauh meninggalkan diri kami yang dulu; hubungan yang sederhana, mengalir, selalu banyak tawa. Saling mengerti dan berusaha tidak saling menyakiti. Saya ingat ia amat manis, semua yang ada dalam dirinya.

Ah, sudah sepuluh menit saya di kamar mandi ini, entah kenapa, pelan-pelan saya rapuh dan merasa tidak lebih dari gelas tipis yang dibeli dari tawaran diskon besar-besaran di sebuah pusat perbelanjaan, gelas yang sangat mudah pecah! Lima belas menit, saya mulai dirayapi kesepian yang dalam. Dua puluh menit, saya mulai mengeluarkan kemarahan dengan kata-kata kurang senonoh dan untungnya cukup saya dengar sendiri. Dua puluh lima menit, tetap tidak ada yang mengetuk pintu dan bertanya, “Kau baik-baik saja, Sayangku?”

Saya tahu ia masih di sana, di ruang tengah tempat biasa kami berkumpul, hanya sepuluh langkah orang dewasa dari kamar mandi di mana saya sekarang berada. Ia bercengkerama, tentunya, dengan bayi kami yang berumur dua puluh empat bulan. Tawanya cempreng. Sekali dua kali. Saya bertanya-tanya, kenapa ia tidak buru-buru menyadari ada satu tempat kosong di sana, lalu ia segera ingat saya, dan mengeluarkan saya dari tubuh pesawat terbang mainan ini, kemudian kami memulai hubungan yang baru, lebih dalam dan lekat. Banyak orang mengatakan setelah pertengkaran merupakan momen paling bagus untuk membuat hubungan semakin hangat jika kita mampu mengambil peluang itu.

Hanya saja bukankah kami tidak benar-benar bertengkar. Tiba-tiba saya tidak enak hati dan mengurung diri di kamar mandi ini. Jangan-jangan ia sama sekali tidak menyadari kalau saya ada dalam kamar mandi dengan kondisi yang menyedihkan. Karena itu saya begitu yakin peluang itu tidak mungkin kami dapatkan. Terlepas begitu saja. Belakangan ia kurang sensitif, sedikit acuh, sibuk sendiri. Saya melemaskan tubuh saya. Entah kenapa saya mulai berpikir untuk melayang ke tempat lebih tinggi, seperti orang yang frustasi saya ingin melepaskan diri dari kengerian masa depan saya bersama lelaki itu.

Saya berdiri, keluar dari tubuh pesawat terbang mainan. Saya perhatikan gunting yang tergantung dekat tissue. Saya mengambilnya. Kemudian gunting itu saya arahkan ke rambut saya yang sepinggang. Tidak cukup satu menit, lebih dari setengah rambut saya sudah jatuh ke lantai. Mendadak tubuh saya lebih ringan. Setelah itu saya memotong rambut yang tersisa di kepala saya dengan cara membabi buta. Saya melihat diri saya lewat cermin. Dalam cermin itu saya melihat wajah saya yang dungu. Saya geram. Mata saya tertuju pada botol pembersih lantai merk tertentu. Saya mengambil botol itu dan membuka tutupnya. Aroma lavender segera menyengat hidung saya. Saya memejamkan mata. Lagi-lagi saya dengar dia tertawa. Mereka seakan asyik sekali. Bahagia. Sementara saya semakin sepi. Semakin merasa ditinggalkan.

Saya perhatikan lagi botol pembersih lantai itu lekat-lekat sembari membayangkan terbang di keharumannya yang damai. Dengan mata nyalang saya mengangkat botol itu hingga dalam sekejap seluruh isinya sudah berpindah ke perut saya. Setelah itu usus saya serasa terbakar dan berantakan.

Sampai kapan ia menyadari kalau ada tempat kosong di kehidupan mereka, lalu buru-buru ingat saya, mencari saya ke mana-mana, termasuk ke dalam kamar mandi sebelum saya benar-benar melayang ke tempat lebih tinggi. Atau ia betul-betul akan membiarkan saya pergi, menganggap saya sesuatu yang tidak berguna lagi dalam kehidupannya.

***

“Morin…”

“Aku di mana?”

“Kamu di rumah sakit.” Dia menempelkan tangan saya ke dadanya, “Jangan pergi dariku...” Lelaki itu menangis. Ia tampak terpukul.

“Aku mimpi buruk,” kata saya.

“Itu sudah berlalu.”

“Maafkan aku. Aku bingung sekali.”

Dia mengusap pipi saya, berkata, “Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa.”

“Aku bahkan tidak tahu kenapa begitu kalut seolah-olah aku menjadi

orang lain dan aku tidak bisa mengendalikannya.”

“Sayangku, sungguh, kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa.” Dia mengecup pipi saya, dan berbisik, “Tidurlah. Aku akan menjagamu.” ***

Jalan Enam Mei, Oktober 2008
posted by Kemana? Tunjuklah kedepan at 20.59 0 comments

Dunia tanpa pagar

DUNIA TANPA PAGAR


Apapun yang dikatakan orang, jangan percaya jika itu tak membuatmu bertanya!
sebab aku dan derida yakin, pertanyaan lebih penting dibanding jawaban!!!!!
posted by Kemana? Tunjuklah kedepan at 08.26 0 comments